Teman Blog Tintahatiku

15 May 2011

cikgu


Dari saat pertama
Langkah kaki masih gusar

patah pertama meniti dibibir
Tatkala aku mengenal ungkapan ‘cikgu’
Besar cita kugenggam
Tinggi hasrat kupasang
Luas angan kubentang
Kerna aku punya impian  

berdiri di hadapan
Memegang sebatang kapur putih
menulis tanpa buku
Bertutur nada tersusun
Membibit kemesraan

Pada hati kecil aku berkata
tulusnya ‘cikgu’ penuh senyuman
Mudah ajarnya aku terima
Bukan kerana wajah
Tetapi luhur hatinya memikat jiwa…

Sedang aku membilang usia
Langkah mula berwarna
Semakin hari meniti rasa
Mula saatnya mengenal dunia
‘cikgu’ terus mengadun rahsia
Mengelus jiwa remaja
Agar tidak tercetus gelora
Kerna anak-anak di hadapannya
Bukan lagi anak kecil
yang meratah ketulusan
hingga rasa meracuni jiwa
Namun sabar melingkari

 bicara dan gurau senda
memikat si jiwa remaja anak didiknya
Biar  terus mesra berbunga
Biar senang ajaran diterima
Kerna sopan tuturnya
Kerna lembut lakunya
Kerna manis senyumnya
Kerna bijak caranya
bukan menjeling dengan garang
Melihat mata-mata ketakutan

Bukan bahasa tutur yang tajam
Bukan jelingan yang mengundang tohmahan
Bukan rotan yang membekas dendam…

Itulah kehidupan ‘cikgu’
Yang arif menimbang rasa
yang tahu mengesan nada
 yang bijak mengatur bicara
yang tulus mendidik anak bangsa

teringat kata budiman
kasih ibu sampai ke syurga
kasih ayah membawa bahagia
kasih guru hingga berjaya…


hasmad 12oktober2008

p/s: sungguh tak sangka, kini aku turut dipanggil sebagai 'cikgu'.... walaupun baru sahaja menjalani latihan mengajar di sekolah...

11 May 2011

jalanku

segugus waktu adalah makna
sejambak senyum adalah budi
sekuntum hati adalah tekad
hari-hari yang berlalu adalah serangkum nyawa
ada pertarungan
antara rela dan paksa
tetap jua melangkah
di bahu terhimpun segala amanat dan wasiat


di sini ada simpang
antara perjalanan pergi dan pulang
langkah seribu ranjau bercabang
berjuta warna bersilang
dalam gusar yang berperang
itulah pengalaman sepanjang jalan.


10 mei 2011

p/s: sempena menyambut hari guru, tiba-tiba guru senior lelaki membuat permintaan (mengenakan cikgu praktikal kot) utk membuat persembahan secara spontan. maka kami menyahut cabaran dengan penuh rasa gementar, segan dan silu...ahaks.... sajak ini dideklamasikan... sebenarnya sajak ni aku buat sempena masuk praktikal...iaitu pada hari kedua... sebagai catatan perjalanan hidup ke arah yang lebih mendewasakan.... ape pun, SMK Sungai Koyan adalah sebuah sekolah pertama dan dan kali pertama diraikan... anyway, SELAMAT HARI GURU untuk semua warga pendidik...

19 April 2011

061006


seharusnya aku tiada
tak pernah hadir dalam hidup kalian
jangan pernah wujud barang sedetik rasa

jangan pernah mengaku cinta
jangan pernah menyata sayang
jangan pernah mengungkap janji
kerna aku tidak tahu menghargai!


kususuri jejakmu
berbunga indah mengiringi langkah
terpaku sendiri
Tuhan telah mengirim pesan
dalam lena yang terjaga
hadirmu bersama bahagia
membuat aku cemburu
harus kuakur
itulah kamu yang pernah kulukai!

aku yang terlalu memuja cinta
rupanya sesat dalam ilusi sendiri
umpama hidup yang remuk tercincang 
hingga tidak lagi ku mengenal 
mana hati... 
mana jantung...
mana rindu... 
mana cinta... 
mana kekasih... 
mana segala yang kupuja kelmarin... 

aku runtuh di belukar duri sendiri 
hingga aku rebah meratap sujudku
nadi pun mengensot membawa nyawa 

Ya Tuhan,
aku tidak mengenal diri
benci kian meracun hati
mungkin sampai aku mati
tak ku kenal cinta sejati.

12 March 2011

nyawa hidupku- Ada Band

Angin malam berhebus lirih dingin menyapa
Coba merasakan semilir kehadiranmu
Coba kutanya cinta kemana arah dan tujuannya
Bila memang berpisah mengapa maut yang pisahkan

Aku memujimu hingga jauh
Terdengar syahdu ke angkasa
Rintihan hatiku memanggilku
Dapatkah kau dengar nyawa hidupku

Runtuh jiwa ragaku hancur berkeping-keping

Kaki dan tangan tiada berpijak di bumi lagi
Kau menelanjangi diriku selalu lewat indahnya
Peluk kasih merangkul yang membelenggu
Yang kini meninggalkanku



p/s: sebuah lagu dituju kepadaku... Thanks *__*

11 March 2011

diksi dari seberang ii

" SAJAK INI BUATMU JINGGA "














jingga,sajak ini buatmu
rangkuman kisah sebab bagiku kaulah puisi yg terbisik 

lewati deru malam dalam renungku terbelenggu
bukankah engkau yg selalu menatapi bayangku diseberang pintu ?
bermadah lewat syair itu hingga senja hari dan ...
aku pun hanyalah pengelana yg senantiasa menuliskan desah nafas 

demi lirih swaraku sendiri yang bergema 
senantiasa lewati gugusan bukit 
yang kemudian merangkum smua tatapmu dilembah tersembunyi.
saat terlewati tengah malam itu
dan ketika langkahku tersesat disetapak lalu,
hanya kembali pulang dipintumu hingga terbasuh luka serta daki perjalanan itu
namun pernahkah engkau tahu jingga ??
distiap bukit serta lembah yang terlintasi
telah aku semai rindu itu dalam swarna pelangi.
sebab kelak ktika usia telah lelah menepi 

dan kaki ini tak kuasa lagi mendaki ,
mungkin masih jelas kusaksikan binar binar pelangi 

saat senja lewat sayap sayap lenggang enggang pulang kesarang .
dan dalam gelisah kantukku itu

engkau akan tetap anggun dalam bayangku diayunan itu .......

( jingga, sebuah ayunan itu telah cukup mewakili dalam kisah kasih tak sampai ini ) 



p/s: sungguh, rasa ini terjunjung!

09 March 2011

diksi dari seberang

lantas kuabadikan titipan dari samudera sana yang menyinggah semalam bersama sejahtera tutur dan puisinya... dan di sepanjang pantai hatiku adalah perkarangan rindu yang diusik semilir kasihnya... tuntas merelakan aku terus di ayunan itu menghadap gelora laut yang tahu erti perbicaraan dan kisah-kisah terindah kerna di situ juga aku riuh bercerita padanya dalam bahasa rinduku... remah menjingga melewati senja adakalanya mengajak aku pulang namun aku tetap jua menatap deru-deru yang berkejaran menyampai pesan dari seberang.... dan aku pun tetap jua bersimpuh di situ meski rintik gerimis menghujani.... biarlah aku terus berseloka dan berdiksi dalam sejambak metafora biru dari seberang...



sepanjang malam aku berdiri diseberang ayunanmu ,
mencuba menangkap sgala rahasiamu tersembunyi
dipantai itu senjapun mulai turun tanah
bias senja meningkah gelombang menepi
" mungkin hingga saat ini rahasia hati diayunanmu belum tuntas aku singgahi "
akupun mencari ,
dipasir pantai anganku membimbing jemarimu ,
kita tlah tulis berdua dipasir itu : tentang ombak , mega , lalu semilir bayu entah apalagi .
dato, kita ini laksana setegak nyiur,
saling merunduk diantara pantai yang berseberang jauh .......
( namun rindu itu tlah mampu mendekatkan jarak ,sedekat aku tlah genggam jemarimu ditepi ayunanmu )



syukur selalu saya ucap, smoga dato senantiasa berbahagia tiada lagi saya meminta uluran tangan dato dalam kancah perkenalan kemarin telah memberi saya nuansa baru dalam hidup : jingga ,
khabarkan padanya bahwa tetap dia menjadi yg paling berarti saya akan kenang dia dalam diam kembara perjalanan tanpa luka dan pura pura saya sangat sayangi dia. santun ,berbudi bahasa . 



hingga melewati senja tak kudengar swaramu
mungkin satukisah menghalangmu dalam kabut itu menyapaku
sebab mulai fajar kupanggil engkau
diam langit tetap saja menjelaga
namun dalam keremangan rintik gerimis menyadarkan
" biru, disepanjang hayat itu bukankah merasa memiliki lebih
menenteramkan nuranimu ,meski cayaha itu bukan milikmu "
terjebak rasa biduk itu entah kemana menuju sedang langit
selalu sahaja terheran menatapi ,
betapa galau gamang singgah dipetamanan tanpa seseorang memanggil .
( sekejap lagi kantuku menyeret sepi dipembaringan itu hingga pagi lagi tetap kuajak engkau memilah puisi tuk esok hari : terlalu menuntutnya aku padamu ,dato ?! ) 




SEBUAH CATATAN BIRU BUAT JINGGA

JINGGA, 

semalam dalam kabut aku datang kembali keayunan itu menyapanya ,
dengan langkah malu sedang rindu tetap saja bergelayut diayunan itu.
langit senja keemasan biasnya menyentuh alun gelombang menuju bibir pantai, 

Kami melangkah riang dalam canda tawa kanak kanak kami disepanjang garis pantai itu kami saling mengeja cerita masing masing tentang mimipi tentang segala yg terangan , 
kami laksana anak anak dan hidup ini terasa beban lagi JINGGA .
Sesekali aku mencuri pandang ,

legam helaian rambut hitamnya disisi kerudung itu yg selalu menutupi , 
kami berlari laksana anak anak kijang dihutan pedalaman , 
mata kami lebar berkilau menjelma mutiara 
dan jika saja jatuh dari mata itu sepercik tangis maka kami akan menyemaikannya 
dimimpi mimpi kami yang penghabisan yang mungkin kelak 
akan mampu menumbuhkan sejuta sajak yg mungkin mampu engkau urai JINGGA, 
Kami akan saling berbagi dan saling memuji dengan seluruh harapan serta seluruh doa doa 
dan kisah kisah kami ini kelak akan selalu bertiup bersama warna jingga senjamu 
dia akan selalu hidup disepanjang pasir pantai 
dan akan senantiasa akan dikisahkan ketika lelah pengembara menyaksikan jingga warna senjamu
JINGGA, begitu setianya engkau menjadi pendengar atas kisah kisah ini 

namun tetap pintaku sampaikan selalu lewati warna mu 
betapa kasihnya aku padanya, diyunan itu. 

dato terkasih , rindu tak pernah pupus dipantai itu bersama ayunanmu meski hampir rasanya putus harapanku untuk bisa menyapamu kembali kerna jejakmu serasa menjauh : saat ini rindu smakin kekal saja dipantaimu ,yang ketika senja kemarin kucari jejaknya hampir disepanjang batas. bukan rajuk itu atau taksudi namun ktika tak kutemukanmu , ada yg perlahan hilang lalu menjadi tangis disepanjang pantai ,yah dawai ini serasa terlepas dari jenteranya " 


mutu manikam maafmu dato rajuk ini telah menepi, dato berdoa selalu ya smoga kejayaan itu segera termiliki , slamat berjuang dato 

~~>  serangkai diksi ini menemani hariku... meski tidak berwajah... terima kasih

22 February 2011

Bunga-Bunga Cinta

Tak pernah terlintas di benakku
Saat pertama kita bertemu
Sesuatu yang indah tumbuh dalam gundah
Harum dan merekah
Tulus hatimu buka mataku
Tegar jiwamu hapus raguku
Memboncah di hati harapan dan suci
Menyatukan janji

Bunga-bunga cinta indah bersemi
Diantara harap pinta padanya
Tuhan tautkanlah cinta di hati
Berpadu indah dalam mihrab cinta
Tulus hatimu buka mataku
Tegar jiwamu hapus raguku
Memboncah di hati harapan dan suci
Menyatukan janji

Bunga-bunga cinta indah bersemi
Diantara harap pinta padanya
Tuhan tautkanlah cinta di hati
Berpadu indah dalam mihrab cinta

Tak pernah terlintas di benakku
Saat pertama kita bertemu
Sesuatu yang indah tumbuh dalam gundah
Harum dan merekah
Memboncah di hati
Harapan dan suci
Dalam mihrab cinta


by: Dude Harlino & Asmirandah

10 February 2011

highway

.

hidup ini boleh diibaratkan seperti perjalanan di highway!
adakkah anda juga bersetuju dengan pendapat saya???

q*__*p
***********************************************

setiap insan yang sedang dan akan terus menghela nafas di setiap denyut nadi,
tidaklah ia diciptakan Tuhan dengan sia-sia...
dan segala sesuatu perkara yang dihadapkan bahkan setiap detik yang tak pernah terlepas hitungan adalah perjalanan yang harus kita caturi...
juga bagaimana seharusnya kita melihat hidup ini sehari-hari yang menuntut kebijaksanaan, pertimbangan kemanusiaan dan rasa kehambaan dalam menelusuri sebuah perjalanan...

telah juga dibentangkan seluas-luasnya pandangan
yakni pilihan yang terhampar menanti jejak
di situlah manusia mula merubah langkah
kerana Tuhan Maha Pemurah
Dia memberikan segala kesempatan untuk kita nikmati
dan perhitungan dari janji yang satu pun bermula...

begitulah ibaratnya...
perjalanan kita bermula kerana langkah menyusur jejak pilihan yang diberi Tuhan
banyak orang berlumba meraih kemenangan dan keinginan
banyak orang bertebaran mencari arah menuju pilihan
banyak orang berjuta cara berbeza kemahuan
banyak orang bermacam ragam berbagai haluan
banyak orang dalam perjalanan di highway!




15 January 2011

kawan atau lawan?


bukan sekali aku mendengar cemuhan
tapi aku pekakkan saja,

bukan sekali diriku dicanang
tapi aku diamkan saja,

bukan sekali diriku kau pijakkan
tapi aku tundukkan saja,

bukan sehari kau kukenali
tapi telah kubaca hati budimu,

kerna aku bukanlah pelukis dendam
tapi keruh pada wajah itu sedang bercerita
tentang benci dan nafsi

mudahnya bagimu kawan
membakar segala kebaikan
yang jelas telah terpadam
hanya kerana rajuk yang meracun
atau kesumat yang kau perlihatkan!

mungkin nilainya persahabatan
hanya pada senyuman manis yang sekadar terlukis
juga pada senda mesra yang cuma menipu mata
tapi harus kau lihat
pada kesulitan yang menduga
pada kebaikan yang tak ada
pada keperitan yang kau tak rasa!

apakah kau sebenarnya kawan
atau lawan...?

150111

12 January 2011

Maafku tak setanding rajuk hatimu

bila aku berpaling menyorok sekilas pandangan
jangan kau katakan aku menjeling
kerana saat itu mungkin
aku tak mampu menatap 
lirikan yang kau tudingkan


dan bila ketika kau melihat aku menunduk
jangan kau lemparkan tohmah yang karut
kerna saat itu mungkin 
aku tak mampu menghadap
pada kenyataan yang kau lihat


juga bila mana kau melihat aku berlalu
jangan kau ungkapkan sangka melulu
kerna saat itu mungkin
aku tak mampu menyatakan
sejuta perasaan yang bercelaru!


kerna antara kita
tiada siapa pun yang sempurna,
kupohonkan ampun kiranya 
maafku tak setanding rajuk di hatimu.


12 01 11

08 January 2011

bukan diriku-samsons



setelah kupahami
ku bukan yang terbaik
yang ada di hatimu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
tak dapat kusangsikan
ternyata dirinyalah
yang mengerti kamu
bukanlah diriku

kini maafkanlah aku
bila ku menjadi bisu
kepada dirimu

bukan santunku terbungkam
hanya hatiku berbatas
tuk mengerti kamu
maafkanlah aku

reff:
walau kumasih mencintaimu
kuharus meninggalkanmu
kuharus melupakanmu
meski hatiku menyayangimu
nurani membutuhkanmu
kuharus merelakanmu

dan hanyalah dirimu
yang mampu memahamiku
yang dapat mengerti aku

ternyata dirinyalah
yang sanggup menyanjungmu
yang lama menyentuhmu
bukanlah diriku


28 November 2010

Al-Fatihah buat emak

perginya seorang ibu
membawa ratap dan tangis sendu
tersungkur dihumban rindu
kala akhir hayatnya jumaat lalu

ibu yang kukasihkan
sayang yang takkan hilang
walau jejakku umpama dagang
di situlah aku menumpang!

untaian kata ini 
kutahu takkan sampai ke lahad sana
hanya doa kubisikkan sendirian
kuutuskan pada Tuhan,
tinggallah dunia dan cinta yang fana
kembalilah kepada Maha Pencipta
dan di sini
aku kan terus memeluk bayangan kenangan
Al-Fatihah buat arwah emak....

syair Sunur

(51) Inilah nazam dagang yang syukur / kepada tolan di kampung Sunur / bidal sekapur sirih yang layur / pembuka kabar permulaan tutur (1)

(52) Lamalah tuan dagang tinggalkan / habislah tahun baganti zaman / satupun tidak dagang kirimkan / dikarang surat kaganti  badan (2).

Jikalau adat orang yang lain / ada kiriman baju dan kain / akan sahabat lawan bermain / supaya terbuka hati yang  rahim (3).

Di dagang tidak katando hayat / hanyalah kertas berisi dawat° / dalamnya sembah fadhilal hajat  / serta salam doa selamat (4).

Pikirlah dagang suatu malam / diambil kertas, dawat°, dan kalam / disuratkan sembah serta salam / memohonkan ampun ke  bawah Kidam (5).

Sungguhpun surat dagang kirimkan / umpama° ganti nyawa dan badan / dagang bercinta surat sampaikan / sepanjang tahun segenap bulan (6).

Wahai sahabat dengarkan kata / kaum kerabat semuanya° rata / sungguhpun jauh tuan di mata / di dalam mimpi kupandang nyata (7).

Baru tapajam mataku tidur / rasa di dalam negeri Sunur / tolan yang ada lawan bertutur /  sukalah hati menerima syukur (8).

Sudah terjaga mata memandang / kiranya badan terbaring sorang / bukan di Sunur hanya berdagang / tolan yang tadi dipandang hilang (9).

Siapa tuan yang kasih sayang / mau menanya dagang terbuang/

(53) sambutlah surat sudah terlayang / lihat kabarnya disana terang (10).

Di dalam surat ada alamat / mengatakan dagang lagi ada hayat / serta sehat dalam selamat / di negeri Tarumun namanya tempat (11).

Siapa tuan menaruh iba°  / mau melihat dagang yang papa / tuan disini dagang disana / di dalam surat bertemu mata (12).

Aku suratkan dengan ujung°  kalam / atasnya kertas dawat yang hitam / siapa tuan yang  rindu dendam / tempat teringat  siang  dan malam (13).

Dengan ujung°  kalam aku menyurat / boleh katanda masa teringat / siapa yang rindu tolan sahabat / lihatlah bekasnya dagang yang larat (14).

Wahai tuan yang kasih sayang / apalah nasib dagang seorang / untung nan tidak bagai di orang / dari mula awal sampai sekarang (15)

Di orang untung umpama°  nuri / rupa pun baik dengan biapari / dalam tahta sepanjang  hari / apa yang hajat datang sendiri (16).

Di dagang untung bagai sisagan / di dalam sarab sepanjang hutan / kurang mencari kuranglah makan / sepanjang tahun segenap bulan (17).

Di orang untung umpama° tiung / dalam haribaan bunda mengandung / jikalau sakit bunda mendukung / pada masa panas dikembang payung (18).

(54) Di dagang untung bagai barabah / dalam ilalang° tuhur dan basah / sakit dan senang itulah rumah / begitu nasib takdir Allah (19).

Di orang untung umpama° balam / di dalam sangkar° podi manikam / di dagang untung bagai anak ayam° / dalam pelimbahan siang dan malam (20).

Di orang untung umpama° elang° / menjadi raja di awang-awang / di dagang untung si pipit pinang / dua sejoli kemana terbang (21).

Di orang untung umpama° bayan / dalam sangkar° keramat intan / di dagang untung si pungguk rawan / mabuk bercinta rindukan bulan (22).

Di orang nasib umpama°  merak / rupanya baik akal pun bijak / di dagang nasib upama cecak / kebencian orang guna pun tidak (23).

Di orang ada ibu dan bapa / akan pembujuk° hati yang duka / di dagang yatim, miskin, dan papa / segenap negeri benci belaka (24).

Jikalau ada ayah dan bunda / sukalah dagang jadi garuda / terbang membubung  atas udara / ke negeri Sunur menjelang ayahanda (25)

Di orang untung Bunga Cempaga / rupanya baik putra dewangga/ siang dan malam atas kepala / dalam junjungan ayah dan bunda (26).

Di dagang untung bunga durian / jatuh ke bumi masa penghujan° / (55) menjadi luluk sepanjang jalan / siang dan malam jadi jejakan (27).

Sanak saudara ada di orang / boleh menolong pagi dan petang / dagang nan bagai pinang sebatang / kiri dan kanan tidak bercabang (28).

Di orang ada dalam kaum / umpama°  betung rampak serumpun / kiri dan kanan banyak berhimpun / segenap bulan sepanjang tahun (29).

Di dagang tidak ada kerabat / akan menjadi lawan sahabat / umpama° nyiur° sebatang bulat / pikir di hati menjadi larat (30).

Di orang nasib bagai durian / batangnya rampak, daun, dan dahan / di dagang nasib sebatang bamban / masa terbuang di dalam hutan (31).

Di orang ada rumah dan tangga / tempat bermain bersuka2 / di dagang yatim, hina, dan papa / segenap rumah tempat suaka (32).

Sudah begitu takdir Allah / mula sejengkal tinggi di tanah / kami bertiga suatu ayah / turun serumah naik serumah (33).

Untung di Allah sudah begitu / atas kepala dagang piatu / kami bertiga ibu pun satu / ketiganya hanyut ke Bandar Satu (34).

Di orang nasib bagai kepundung / buahnya manis makanan burung / di dagang nasib buah galapung / hanyut di sungai terapung2 (35).

(56) Di orang untung umpama°  duku / manisnya sampai ke ujung° kuku / di dagang pahit bagai mengkudu/ biarlah hilang jangan meragu (36).

Wahai tuan yang biaperi / dagang katakan nasib sendiri / anak ayam° hilang  ada bacari / dagang terbuang tiap negeri (37).

Wahai tuan yang kasih sayang / dengarkan kabar dagang terbuang / jauh di mata di hati hilang / baiklah mati sebelum gadang (38).

Tidak kerabat banyak di orang / tetapi ada emas di pinggang / barang kemana pergi berdagang / adalah orang menaruh sayang (39).

Dagangku ini tidak seperti / dari mula kecil bunda ‘lah mati / emas pun tidak di dalam peti / semuanya orang menaruh benci (40).

Wahai sahabat handai dan tolan / dagang yang yatim tuan sadarkan / tidaklah jadi tuan harapkan° / sudah terbuang dalam lautan (41).

Tuan dengarkan kabar yang elok / dagang diambil kabuah ratap° / tidaklah boleh dagang diharap° / umpama°  kambing lepas ke sesap° (42)

Siapa tuan yang kasih sayang / memberi nasi dagang terbuang / sesuap pagi sesuap petang / minta° ridakan sampai sekarang (43).

Sudahlah kabar kepada tolan / sembah dan salam habis disinan /

(57) kepada yang  tua° sembah haluan / yang muda salam dagang kirimkan (44).

Suatu lagi nazam ditambah / kepada ananda° Umi Salamah / belahan nyawa buah hati ayah / di negeri Sunur darah tertumpah (45).

Wahai ananda° Umi Salamah / dengarkan, Sayang, pitaruh ayah / taat ibadat kepada Allah / iman di dada jangan berubah (46).

Sembahyang, Sayang, jangan berhenti / dari mula hidup sampai kan mati / di akhirat, Sayang, ayahanda menanti / di Padang Mahsyar di pangkal Titi (47).

Jikalau ada umurku panjang / niatku bulat tidak bercabang / hendak segera kembali pulang / melihat anak sibiran tulang (48).

Jikalau sampai bilang umurku / habislah daya dengan upayaku / di akhirat, Anak, kita bertemu / di dalam Jannah sorga Tuhanku (49).

Wahai Anak hendaklah syukur / masuk termimpi masaku tidur / siang di Tarumun malam di Sunur / rangkai hatiku rasakan hancur (50).

Tersentaklah ayah pada tengah malam / bulan pun terang cuaca alam / tampaklah gunung jeram-menjeram / hati yang rindu remuk di dalam (51).

Bangunlah ayah daripada tidur / bangkit sekali duduk terpekur / terdengar ombak berdebur2 / tidaklah obah rasa di Sunur (52).

(58) Ayam° berkokok hampirlah siang / orang pun sunyi° angin pun tenang / berdesir ombak di atas karang / bunyi° menyeru mahimbau pulang (53).

Jikalau ayahanda menjadi burung / sekarang itu terbang membubung / laut baharullah ayahanda arung°  / biarlah hanyut menjadi apung (54)

Jikalau ayahanda menjadi bayan / lengkap jo sayap kedua tangan / ayahanda terbang menyisi awan / menjelang Sunur kampung halaman (55).

Jikalau ayahanda menjadi elang° / sekarang itu jua terbang / malam pun tidak dinanti siang / minta° sampaikan masa sekarang (56).

Begitu rasanya di hati ayah / siang dan malam tidak berubah / tetapi belum takdir Allah / habislah daya upaya sudah (57).

Inilah surat dagang yang sangsai / sambutlah, tuan, manakala sampai / suruh bacakan barang yang pandai / ganti bertutur berandai2° (58).

Siapa tuan menaruh santun / sambutlah surat dari Tarumun / kaganti senda umpama° pantun / jikalau salah beribu ampun (59).

Wahai sahabat kecil dan besar° / Suratku ini minta° didengar / air mata tuan kalau keluar / ganti meratap° mayat terhantar (60).

Siapa tuan yang kasih sayang / mendengar kabar berita dagang /

(59) air mata tuan kalau terbuang / misalkan mayat turun di jenjang° (61).

Wahai ananda° Umi Salamah / hendak dengarkan surat bermadah / air mata anak jatuh ke tanah / niatkan, Sayang, meratapi ayah (62).




p/s: petikan ini daripada translisasi Syair Sunur yang didapati daripada sebuah blog. sangat indah untuk dihayati.

23 November 2010

hati yang kembara

tentang hati yang meronta
ingin kembara dari daerah merah merekah
kian tertindih oleh sejuta mimpi dan perasaan
menjerit memanggil Tuhan

mencari keutuhan diri dalam beribu bicara dan doa
dan masih bernafas dalam getir
kembara merayau dari wajah ke wajah semalam

duhai angin
bawakan mimpi dari kiblat 

dalam kekalutan warna yang kabur
merintih menggelupur dalam keasingan bagai terkubur
berselimut dalam dosa dan harap yang meronta
akan perjalanan yang banyak kenangan menikam
dan sungguh takkan terpadam

naskah-naskah dari tulisan silam menyimpan dendam
tintanya dari luka dan air mata
tentang duka dan lara

hati kembara dari daerah merekah
mencari ketulusan di jalanan gersang
meminggirkan diri dari cinta yang berkabus nafsu
menyusur sekilas sinar cahaya yang hampir tenggelam

tangis dan zikir bercinta
dalam sedu bertemu tawa dan dosa
mimpi dan nyata yang bercampur
singgah menggugah langkah kembara hati
menjejak kekasih penunjuk jalan pulang

pergilah angin bawa nafas yang kuhelakan
sebelum cahaya menghilang bertukar gelap yang panjang
biarlah hati ini bermusafir
walau langit bertatah hujan
biar basahku kuyup memeluk kasih-Mu Tuhan.





231110

21 November 2010

rencah satu Malaysia


Saat itu bergema lagi
Menggamit rintihan bahasa duka
Dalam cengkaman penjajah durjana

Menggenggam sekelumit nekad
Menongkah derita
Hujan peluru adalah irama luka membakar jiwa
Tangisan si kecil dan esakan hawa mengheret pilu

Resah berkejar gelora ke samudera merdeka
Anak muda bertarung nyawa
Di medan merah bertempur gagah
Menjulang tenaga pewira
Memburu kebebasan

Duduk.....duduklah di situ
Kaku.....biarkan kaku usah terburu
Pejam...jangan kau pejamkan mata hatimu
Diam.....usah lagi bicara dusta
Dengar....sememangnya ku ingin kau mendengar
Mengerti.....seharusnya kau memahami
Tentang sejarah yang tak kita peduli...

Kiranya langit itu biru
Sebenarnya jiwa mereka kelabu
Tiada lagi senyum tawa
Hanya genangan air mata
Hingga kering masih terlukis
Pada wajah seribu hiba
Menagih pujukan hati
Meniti hari-hari ngeri
Tapi kini
Kita bisa melihat
Anak-anak kecil ketawa
Bukan lagi tangis duka
Kita bebas mengatur langkah
Bukan lagi dirantai merah

Hari ini segalanya milik kita
Usah dihitung manik-manik putih yang luruh
Pasti kelabu bertambah haru
Tapi jerih luka mereka
Pasti dilupa jangan
Biar layu pucuk tualang
Biar rumput jadi semalu
Sawah bendang jangan tergadai

Dari lidah fikir menteri perdana
Gagasan rakyat puluhan juta
Kita mulakan langkah baru
Mengiringi visi tak terbatas
Dari mata jiwa seorang wira bangsa
Demi tanah tumpah darah
Mendukung misi menggapai cita

Kita memegang satu matlamat
Padanya berpadu erat
Satu rumpun memasang hasrat
Satu suara bulat
Satu tekad tercegat
Satu sama muafakat

Kita melangkah sama berderap
Kita menyusur sama selinap
Kita menongkah sama berharap
Kita mara sama berarak

Hasrat terbina berpasak bangsa
Menuntut segala kudrat yang ada
Azam berzaman terus menyala
Berganding bahu langkah bersama
Membuka luas mata dan minda
Menyusur kemodenan arus dunia
Jangan bangsa mudah terpedaya
Walau diterjah badai pesona
Terpahat sudah di dalam jiwa
Takkan melayu hilang segala

Langkah kita usaha berganda
Memikul amanat menjinjing keringat
Di bahu kita semuanya wasiat
Tulisan merah berkeramat

Kitalah penyambung warisan berzaman
Kita gubahkan menjadi pedoman
Kerana sejarah telah bercerita
Telah banyak luka dan derita
Apalagi nyawa yang terkorban merata

Kitalah rakyat malaysia
Pewaris bangsa merdeka
Darah pewira berkurun saka
Takkan mengalah meredah masa
Berjuang bagai pahlawan satria
Setapak melangkah terus mara

Ayuh bangsa dan segala yang ada
Usah kita berkira rupa
Tak perlu kita memilih bahasa
Kita pupukkan ketabahan
Menghadapi dugaan melanda
Kita lenyapkan nafsi yang berselimut mewah
Merapat jalinan saudara sebangsa

Di daerah kota janganlah melupa
Di desa yang kurang segala
Yang di atas usah menabur dusta
Yang di bawah usah diperhamba

Yang di atas biarlah redup memayungi
Yang di bawah biarlah sama berusaha
Kanan dan kiri ramah bersapa
Jadikan budaya jauhi sengketa

Dunia kini bersopak derita
Timur dan barat melambung kata
Di sana sini menghasut mengata
Siang derita malam sengsara
Jerit tangis menjadi bahasa
Debu peluru menjadi santapan luka
Nyawa tiada lagi berharga
Mati relai bersepah merata
Laksana wayang mainan kuasa
Begitulah boleh diumpama
Andai harta dan darjat beraja
Hilanglah damai berganti gelora duka

Hari ini bersyukurlah kita
Berpijak di bumi sentosa
Masih bebas umpama langit luas terbuka
Makmur berpadu adunan perdana
Pemimpin bijaksana lagi berjasa
Isi negara sama dicakna

Para ilmuan turut bersama
Menyusur reba tunduk berisi
Mendongak tinggi merendah hati
Mengukur hasrat pada padanan

Berunjak kasih serta kesetiaan
Rukun negara jadi pegangan
Bertatasusila jadi amalan
Adil bertindak menegak hak
Petah lidah jujur bermadah
Berani menegah bicara bercanggah

Tidak helang terbangnya rendah
Bukan belang taringnya patah
Bukan sebarang cepat melatah
Walau sinar intan berlian bertatah
Jangan bangsa mudah beralah
Walau jasad bergelimpangan rebah

Barang yang benar usah pertikai
Bertahan hujah para bijak pandai
Jangan sampai maruah tergadai

Mata dunia menyaksi segala
Tentang retorik dan boneka
Tentang birokrasi dan kuasa
Tentang manusia bermuka neka

Semuanya kerjaan yang cerdik belaka
Tidak bersangsi megah berasa
Tunjuk hebat lagi keparat

sedunia menghambur berita
Halnya khabar durjana
Ada kata dalam kata
Ada tipu dalam tipu
Celakalah kita dirundung dusta
Binasalah kita diamuk sengketa

Berjuanglah
walau pulang jasad ke tanah
Bermulalah kejayaan yang hakiki
Selepas berhempas pulas
Menghidupkan watak dipentas terbuka

Buruk lidah kerana kata
Buruk kata kerana amarah
Buruk kita kerana dusta
Buruk hati kerana nista
Buruk bicara buruk bahasa
Buruk bahasa buruklah bangsa
Buruk bangsa buruklah semua

Usah ditudingkan telunjuk lurus
Lihatlah kelengkeng berkait jua
Kalau bernas akal dan nilainya
Bahasakan bicara juara
Muafakat musyawarah selesai segala

Bukan telagah tunjuk megah
Bukan berarak menunjuk marah
Bukan berpuak tunjuk kuat
Bukan berkapak tunjuk hebat

Duduk semeja sama berpakat
Sama-sama menghambur hasrat
Berlandaskan hukum dan syarak
Dalam Islam bersyariat
Sama bincang dapat manfaat
Agar hasilnya suara yang bulat

Cantaskanlah iri-iri yang berputik
Lenyapkanlah ragu yang membuntu
Leraikanlah hasad yang berlingkar
Padukan semangat teguh bersatu
Hasrat yang satu isinya beribu
Impian beribu milik insan berjuta


Gempita melontar suara
Gegar hingga ke hujung muara
Menjulang semangat membara
Berdiri megah di pentas wira

Ayuh tebus maruah bangsa
Membela nasib kita semua
Di tanah yang berbaur hanyir darah
Dari liang derita pejuang yang rebah

Sengsara yang pernah tersimbah
Warnanya merah likat berdarah
Darah yang sama merah
Yang mengalir dalam tubuh kita

Seumpama sebuah padang terbuka
Kita tegakkan rumah bangsa
Dengan kudrat sepakat
Yang kita himpunkan berdekad lama
Dengan semangat yang menyala

Tiada lagi sangka meronta
Tahu jirannya sesama sebangsa
Berjabat sapa bersenyum mesra
Bertegur sentiasa memugar persaudaraan
Di situlah kita kan mengenal ertinya kawan
Ertinya damai alam sejagat
Sama mengerti sama berpakat
Menjaga ukhwah penuh berkat
Tiada muslihat yang tersirat
Perhubungan bertambah erat

Malaysia bumi kita
Selagi jasad tak lucut nyawa
Jangan kita telingkah sesama
Satu malaysia kita bersama
Di dalamnya melayu india cina
Juga banyak lain-lainnya

Kalau gulai kawah yang sama
Asam garam sama merasa
Sesama kita menabur budi
Sesama kita mencurah bakti

Walau terlingkup langit dan bumi
Jangan mengkhianati sesama sendiri
Jadikan pedoman segala yang jadi
Jangan sejarah berulang lagi


011010
ini adalah puisi terpanjang yg pernah aku buat...patriotik lg..hoohoho....pening pale aku...dah la patriotik, xmasuk jiwe la....huhuhuhu....anyway, dh siap.... hehehe....semua puisi2 baik2 ni aku wat untuk program Sejuta Puisi Satu Malaysia.....sbnrnye byk lg yg kne wat...disebabkan handwriting ondaspot...so, xdan nk copy...huhuhu... Layannnnnnn.....

Search This Blog